Vrydag, 08 Maart 2013

gendang

Selamat datang di Wikipedia bahasa Indonesia!
[tutup]

Kendang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Seseorang yang memainkan kendang.
Kendang koleksi KBRI Canberra, Australia.
Kendang, kendhang, atau gendang adalah instrumen dalam gamelan Jawa Tengah yang salah satu fungsi utamanya mengatur irama. Instrument ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu. Jenis kendang yang kecil disebut ketipung, yang menengah disebut kendang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama kendang gedhe biasa disebut kendang kalih. Kendang kalih dimainkan pada lagu atau gendhing yang berkarakter halus seperti ketawang, gendhing kethuk kalih, dan ladrang irama dadi. Bisa juga dimainkan cepat pada pembukaan lagu jenis lancaran ,ladrang irama tanggung. Untuk wayangan ada satu lagi kendhang yang khas yaitu kendhang kosek.
Kendang kebanyakan dimainkan oleh para pemain gamelan profesional, yang sudah lama menyelami budaya Jawa. Kendang kebanyakan di mainkan sesuai naluri pengendang, sehingga bila dimainkan oleh satu orang denga orang lain maka akan berbeda nuansanya.

Pembuatan gendang

Kendang yang baik terbuat dari kayu nangka, kelapa atau cempedak. Kulit kerbau sering digunakan untuk bam (permukaan bagian yang memancarkan ketukan bernada rendah) sedangkan kulit kambing digunakan untuk chang (permukaan luar yang memancarkan ketukan bernada tinggi). Pada tali kulit yang berbentuk "Y" atau tali rotan, yang dapat dikencangkan atau dikendurkan untuk mengubah nada dasar. Semakin kencang tarikan kulitnya, maka semakin tinggi pula suara yang dihasilkannya.

Pranala luar

redisopyan336@gmail.com

kecapi suling

03 Agustus 2009

Kecapi Suling



Kacapi Suling merupakan perangkat waditra Sunda yang terdapat hampir di setiap daerah di Tatar Sunda. Waditranya terdiri dari Kacapi dan Suling. Kacapinya terdiri dari Kacapi Indung atau Kacapi Parahu atau Kacapi Gelung. Selain disajikan secara instrumentalia, Kacapi Suling juga dapat digunakan untuk mengiringi Juru Sekar yang melantunkan lagu secara Anggana Sekar atau Rampak Sekar. Lagu yang di sajikannya di antaranya : Sinom Degung, Kaleon, Talutur dan lain sebagainya. Laras yang di pergunakannya adalah laras Salendro, Pelog atau Sorog.
Berbeda dengan sebutan Kacapi Suling atau Kacapian bila menggunakan Kacapi Siter. Sudah lazim selain Kacapi Siter dan Suling di tambah pula 1 (sate) set Kendang dan 1 (satu) set Goong. Laras yang di pergunakannya sama seperti laras yang biasa di pergunakan pertunjukan Kacapi Suling yang mempergunakan Kacapi Parahu yaitu" laras Salendro, Pelog, Sorog. Kecapi Suling yang mempergunakan Kecapi Siter, selain menyajikan instrumentalia juga di pergunakan untuk mengiringi nyanyian (kawih) baik secara Anggana Sekar maupun secara Rampak Sekar.
Lagu-lagu yang disajikan secara Anggana Sekar yaitu seperti : Malati di Gunung Guntur, Sagagang Kembang Ros dan lain sebagainya. Sedangkan untuk Rampak Sekar di antaranya Seuneu Bandung, Lemah Cai dan lain sebagainya.

Dalam perkembangannya baik Kacapi Suling yang menggunakan Kacapi Parahu maupun Kacapi Sitter, sering di pergunakan untuk mengiringi Narasi Sunda dalam acara Ngaras dan Siraman Panganten Sunda, Siraman Budak Sunatan, Siraman Tingkeban.
Selain instrumentalia disajikan pula lagu-lagu yang rumpakanya disesuaikan dengan kebutuhan acara yang akan di laksanakan. Lagu yang disajikan diambil dari lagu-lagu Tembang Sunda Seperti diantaranya Candrawulan, Jemplang Karang, Kapati-pati atau Kaleon dan lain sebagainya. Ada pula yang mengambil lagu-lagu kawih atau lagu Panambih pada Tembang Sunda seperti di antaranya Senggot Pangemat, Pupunden Ati dan lain sebagainya.
Disamping perangkat Kecapi dan Suling ada pula perangkat Kecapi Biola dan Kecapi Rebab yang membawakan lagu-lagu yang sama. Dalam penyajiannya, Kecapi memainkan bagian kerangka iramanya sedangkan bagian lagunya di mainkan oleh Suling, Biola atau Rebab. Adapun tangga nada atau laras yang dalam Karawitan Sunda di sebut dengan Surupan, ada pula yang di sebut dengan Salendro, Pelog dan Sorog.
(Sumber : www.westjavatourism.com)
***
Info terkait :

Kecapi, Kini Bisa Dipetik 10 Jari
http://www.klik-galamedia.com/20070826/kolomlengkap.php?kolomkode=20070826015528
TAHUN ini merupakan tahun kedua penyelengaraan pasanggiri kecapi. Jumlah pesertanya sedikit meningkat dibandingkan yang pertama. Tidak kurang dari 11 tim dari seluruh kabupaten kota di Jabar ikut ambil bagian pada pasanggiri kecapi yang memperebutkan piala bergilir Gubernur Jawa Barat dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar.

"Tahun lalu, jumlah peserta hanya delapan tim. Sedangkan tahun ini mencapai 11 tim. Lumayan ada sedikit peningkatan," unkap Kasubdin Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar, Nunung Sobari.

Jika dilihat dari sisi jumlah peserta, memang terbilang minim. Walaupun baik Nunung Sobari maupun ketua penyelenggara, Tatang Benjamin mengaku ada peningkatan jumlah peserta. Sehingga timbul pertanyaan, apakah minat dan apresiasi masyarakat, khususnya kalangan generasi muda terhadap seni kecapi masih tinggi? Suatu pertanyaan yang standar dan klasik. Mengingat semua kalangan dipastikan menanyakan masalah tersebut. Dampaknya, jawaban pun pasti sangat standar.

"Minat masyarakat dan generasi muda pada seni kecapi masih cukup tinggi. Ini terlihat dari para peserta yang mengikuti pasanggiri rampak kecapi tahun 2007. Memang, jumlah peserta hanya 11 tim. Namun dari segi kualitas permainan kecapi tidak bisa diragukan," papar Nunung.

Sekalipun minim peserta, namun tidak membuat komposisi dan aransemen musik kecapi yang dimainkan menjadi miskin nada. Repertoar lagu "Warung Pojok" karya maestro tarling, H. Abdul Abdjib dan "Badminton" karya maestro karawitan Sunda, Mang Koko Koswara di tangan para para peserta pasanggiri rampak kecapi menjadi suatu alunan lagu yang indah dan penuh enerjik. Hal inilah yang dimaksudkan Nunung Sobari, kualitas dari permainan dan petikan yang memainkan lagu "Warung Pojok" dan "Badminton" seperti menjadi suatu lagu yang baru, namun tidak meninggalkan kaidah nada standarnya. Dari tangan mereka, musik kecapi yang dimainkan menjadi lebih kaya dan tidak kalah dengan musik yang dihasilkan alat musik elektrik maupun musik komputer (midi) sekalipun.

Inovasi kreatif

Awalnya permainan kecapi, seperti yang sering dimainkan Mang Koko dimainkan hanya dengan dua jari. Saat ini tidak lagi. Permainan kecapi bisa dimainkan oleh lebih dari dua jari, bisa empat bahkan 10 jari. Hal inilah yang coba diangkat dari pasanggiri rampak kecapi tahun ini. Dengan demikian, seni main kecapi bisa lebih digandrungi oleh kalangan generasi muda. Karena bagaimana pun, generasi yang kaya dengan kreativitas dan inovasi bisa meningkatkan kualitas dari permainan kecapi tersebut.

Kualitas inilah yang membuat penampilan sebelas peserta perwakilan dari Kab. Cianjur, Kab. Sukabumi, Bogor serta Kota dan Kab. Bandung mengundang acungan jempol dan aplaus penonton yang memadati auditorium Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 10 Bandung yang berkapasitas 250 penonton. Tidak terkecuali Kang Tatang Benjamin, putra Almarhum Mang Koko yang juga selaku Ketua Yayasan Cangkurileung dan penggagas kegiatan serta Kang Nano S., penerus jejak (Alm.) Mang Koko.

Setelah satu hari satu malam bertanding, muncul sebagai juara umum tim GRPS Enterprise dari Kab. Bandung, disusul Sanggita (Kota Bandung) sebagai juara II, juara III Perceka (Kab. Cianjur), harapan I SMPN 4 Cianjur, harapan II Gentra Lumayung (Kota Bandung), dan harapan III Sweet Gapa (Kota Bogor).

Para juara ini, semuanya dari kalangan generasi muda yang mampu menampilkan permainan kecapi yang lain dari biasanya, yakni dengan menggunakan lebih dari 20 jari (setiap tim beranggotakan enam orang). Bisa dibayangkan bagaimana rancaknya permainan kecapi, tetapi menghasilkan nada yang indah, harmonis, dan enerjik.

Khawatir dicaplok

Ada rasa bangga dari diri Tatang Benjamin dengan banyaknya peserta dari kalangan generasi muda, yakni tidak usah repot lagi mencari penerus pemetik kecapi. Sebelumnya, Tatang Benjamin merasa khawatir dan gundah karena belum menemukan penerus Mang Koko yang bisa mengangkat musik kecapi di hadapan pemerintah serta masyarakat dalam negeri maupun luar negeri.

Kekhawatiran dan kegundahan Tatang Benjamin ini didasari semakin gencarnya pemerintah dan masyarakat Malaysia mempelajari seni kecapi. Dan Tatang Bejamin pun merasa takut, jika hal ini dibiarkan oleh pemerintah dan masyarakat Sunda (Indonesia), bukan tidak mungkin kecapi akan dicaplok dan diakui sebagai alat musik asal Malaysia, seperti angklung.

"Saya tahu sendiri, bagaimana gencarnya pemerintah dan masyarakat Malaysia mempelajari angklung sekitar 1970 lalu. Buktinya, sekarang angklung diklaim sebagai alat musik asli Malaysia dan pemerintah kita tidak bisa apa-apa," paparnya.

Untuk itu, Tatang pun bersama seniman kecapi lainnya berencana akan mendaftarkan musik dan alat musik kecapi ke badan dunia yang menangani hak kekayaan intelektual (HaKI). Namun Tatang merasa kebingungan, harus ke mana dia meminta bantuan di Indonesia. Karena pemerintah Indonesia kurang peduli terhadap kekayaan intelektual rakyatnya.

"Perhatian pemerintah sangat kurang terhadap karya cipta intelektual rakyatnya. Bukan hanya itu, terhadap kesenian tradisional Indonesia pun, pemerintah kita sama saja tidak peduli," paparnya.

Berbicara musik kecapi, apa yang dipentaskan pada pasanggiri rampak kecapi memang berbeda dengan musik kecapi yang bisa diperdengarkan berupa kecapi suling. Kecapi Suling merupakan perangkat waditra Sunda yang terdapat hampir di setiap daerah di Tatar Sunda.

Kecapinya terdiri atas kecapi indung atau disebut pula kecapi parahu atau kecapi gelung. Selain disajikan secara instrumentalia, kecapi suling juga dapat digunakan untuk mengiringi juru sekar yang melantunkan lagu secara anggana sekar atau rampak sekar. Lagu yang disajikannya di antaranya sinom degung, kaleon, talutur, dan lain sebagainya. Laras yang di pergunakannya adalah laras salendro, pelog atau sorog.

Berbeda dengan sebutan kecapi suling atau kecapian bila menggunakan kecapi siter. Sudah lazim selain kecapi siter dan suling di tambah pula satu set kendang dan satu set goong. Sedangkan laras yang dipergunakannya sama seperti laras yang biasa dipergunakan pertunjukan kecapi suling yang mempergunakan kecapi parahu yaitu laras salendro, pelog, sorog. Kecapi suling yang mempergunakan kecapi siter, selain menyajikan instrumentalia, juga dipergunakan untuk mengiringi nyanyian (Sunda, kawih), baik secara anggana sekar maupun secara rampak sekar.

Lagu-lagu yang disajikan secara anggana sekar, seperti "Malati di Gunung Guntur", "Sagagang Kembang Ros", dan lain sebagainya. Sedangkan untuk rampak sekar di antaranya "Seuneu Bandung", "Lemah Cai", dan lain sebagainya.

Seni tembang cianjuran lahir dari hasil cipta rasa dan karsa Bupati Cianjur IX, R. Aria Adipati Kusumaningrat (1834-1861) atau lebih sering dikenal dengan sebutan Dalem Pancaniti. Namun dalam penyempurnaannya hasil ciptaannya tersebut, dalem Pancaniti dibantu seniman kabupaten yaitu Rd. Natawiredja, Aem, dan Maing Buleng. Ketiga orang inilah yang kemudian mendapat izin Dalem Pancaniti untuk menyebarkan lagu-lagu cianjuran.

Pada zaman pemerintahan R.A.A. Prawiradiredja II (1861-1910), seni tembang cianjuran disempurnakan lagi aturannya. Dengan ditambah iringan suara kecapi dan suling, lahirlah tembang cianjuran yang dikenal sampai saat ini.

Tembang cianjuran pada awalnya merupakan musik yang penuh prestise para bangsawan. Oleh sebab itu, kehadiran tembang cianjuran pada awalnya diperuntukkan bagi para pejabat atau masyarakat kelas tinggi. Dan karena itu juga tempat pertunjukannya selalu berada pada pendopo-pendopo kabupaten. Biasanya untuk acara-acara resmi penyambutan tamu bupati atau upacara-upacara resmi hari besar nasional.

Sejarah

Mamaos terbentuk pada masa pemerintahan Bupati Cianjur, R.A.A. Kusumaningrat (1834-1864). Bupati Kusumaningrat dalam membuat lagu sering bertempat di sebuah bangunan bernama Pancaniti. Oleh karena itulah dia terkenal dengan nama Kangjeng Pancaniti. Pada mulanya mamaos dinyanyikan oleh kaum pria. Baru pada perempat pertama abad ke-20 mamaos bisa dipelajari oleh kaum wanita. Hal itu terbukti dengan munculnya para juru mamaos wanita, seperti Rd. Siti Sarah, Rd. Anah Ruhanah, Ibu Imong, Ibu Oroh, Ibu Resna, dan Nyi Mas Saodah.

Bahan mamaos berasal dari berbagai seni suara Sunda, seperti pantun, beluk (mamaca), degung serta tembang macapat Jawa, yaitu pupuh. Lagu-lagu mamaos yang diambil dari vokal seni pantun dinamakan lagu pantun atau papantunan atau disebut pula lagu Pajajaran, diambil dari nama keraton Sunda pada masa lampau.

Pada masa pemerintahan Bupati R.A.A. Prawiradiredja II (1864-1910) kesenian mamaos mulai menyebar ke daerah lain. Rd. Etje Madjid Natawiredja (1853-1928) adalah di antara tokoh mamaos yang berperan dalam penyebaran ini. Dia sering diundang untuk mengajarkan mamaos ke kabupaten-kabupaten di Priangan, di antaranya oleh Bupati Bandung R.A.A. Martanagara (1893-1918) dan R.A.A. Wiranatakoesoemah (1920-1931 & 1935-1942). Ketika mamaos menyebar ke daerah lain dan lagu-lagu yang menggunakan pola pupuh telah banyak, masyarakat di luar Cianjur (dan beberapa perkumpulan di Cianjur) menyebut mamaos dengan nama tembang Sunda atau cianjuran karena kesenian ini khas dan berasal dari Cianjur. Demikian pula ketika radio Nirom Bandung tahun 1930-an menyiarkan kesenian ini menyebutnya dengan tembang cianjuran.

Sebenarnya istilah mamaos hanya menunjukkan pada lagu-lagu yang berpolakan pupuh (tembang) karena istilah mamaos merupakan penghalusan dari kata mamaca, yaitu seni membaca buku cerita wawacan dengan cara dinyanyikan. Buku wawacan yang menggunakan aturan pupuh ini ada yang dilagukan dengan teknik nyanyian rancag dan teknik beluk.

Lagu-lagu mamaos berlaras pelog (degung), sorog (nyorog; madenda), salendro serta mandalungan. Berdasarkan bahan asal dan sifat lagunya mamaos dikelompokkan dalam beberapa wanda, yaitu papantunan, jejemplangan, dedegungan, dan rarancagan. Sekarang ditambahkan pula jenis kakawen dan panambih sebagai wanda tersendiri. Lagu-lagu mamaos dari jenis tembang banyak menggunakan pola pupuh kinanti, sinom, asmarandana, dan dangdanggula serta ada di antaranya lagu dari pupuh lainnya.

Pada mulanya mamaos berfungsi sebagai musik hiburan alat silaturahmi di antara kaum menak. Tetapi mamaos sekarang, di samping masih seperti fungsi semula, juga telah menjadi seni hiburan yang bersifat profit oleh para senimannya seperti kesenian. Mamaos sekarang sering dipakai dalam hiburan hajatan perkawinan, khitanan, dan berbagai keperluan hiburan atau acara adat. (berbagai sumber) **
Tulisan ini Link dari www.sanggarfitria.blogspot.com


1 komentar:

  1. kang abdi bade tumaros.
    dupi ngagaduhan
    sajarah tembang sunda ci anjuran
    sareng kacapi tembang..
    di antos walerana.
    wasalam
    Balas
Sumangga bilih aya anu bade ngomentaran kana lebet ieu posting, tapi poma kedah ngangge basa anu raos diaosna.

batik daerak

Contoh Batik Tiap Daerah di Indonesia

Batik Yogyakarta (Kasultanan)
Secara umum kain batik jogja mempunyai ciri-ciri dari warna kain itu sendiri.
Dari berbagai macam motif kain batik di tanah air, atau bahkan dari penjuru dunia, batik jogja mempunyai ciri khas dari warna kain dasar, untuk membuat kain batik itu sendiri.
Batik jogja menggunakan kain putih dengan corak hitam. Salah satu contoh adalah batik grompol diatas.
Batik Solo/Surakarta (Kasunanan)
Kain batik yang bermotif Solo/Surakarta juga mempunyai ciri khas yang membedakanya dengan kain batik dari Yogya. Kain batik Solo berwarna kuning dengan corak tanpa putih.
Batik Banyumas
Keberadaan batik Banyumasan memang tenggelam ketika berbicara soal batik, karena ada batik Solo dan Yogya yang lebih popular di masyarakat. Motif-motif batik Banyumas pun dipengaruhi oleh motif-motif batik dari dua kota tersebut. namun demikian ciri khusus dari batik Banyumasan adalah warna dasar yang kekuningan dengan sogan kemerahan.
Batik Pekalongan
Batik Pekalongan termasuk batik pesisir yang paling kaya akan warna. Sebagaimana ciri khas batik pesisir, ragam hiasnya biasanya bersifat naturalis. Jika dibanding dengan batik pesisir lainnya Batik Pekalongan ini sangat dipengaruhi pendatang keturunan China dan Belanda. Motif Batik Pekalongan sangat bebas, dan menarik, meskipun motifnya terkadang sama dengan batik Solo atau Yogya, seringkali dimodifikasi dengan variasi warna yang atraktif. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai hingga 8 warna yang berani, dan kombinasi yang dinamis. Motif yang paling populer di dan terkenal dari pekalongan adalah motif batik Jlamprang.
Batik Cirebon
Salah satu ciri khas batik asal Cirebon yang tidak ditemui di tempat lain adalah motif “Mega Mendung”, yaitu motif berbentuk seperti awan bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk bingkai pada gambar utama.
Batik Madura
Sebagai sebuah bentuk karya seni budaya, batik Madura banyak diminati dan digemari oleh konsumen lokal dan interlokal. Dengan bentuk dan motif yang khas batik Madura mempunyai keunikan tersendiri bagi para konsumen. Corak dan ragamnya yang unik dan bebas, sifat produksinya yang personal (dikerjakan secara satuan), masih mempertahankan cara-cara tradisional (ditulis dan diproses dengan cara-cara tradisional) dan senantiasa menggunakan bahan pewarna alami yang ramah dengan lingkungan.
Batik Lampung
Motif Lampung memiliki keunikan tersendiri yang sangat berbeda dengan motif wilayah lain yang ada di indonesia, merunut sejarah Lampung mulai mengenal seni tekstil sejak abad ke 18 bertepatan dengan masuknya pengaruh kebudayaan India yang mulai masuk ke perairan Sumatera sehingga pengaruh motif-motif Budha sangat kental di dalamnya. Motif yang paling terkenal dan menjadi rebutan para kolektor asing adalah motif perahu dan “pohon kehidupan” dua motif ini menjadi sangat khas bagi kebudayaan Lampung dan merupakan trade mark Lampung di mata dunia internasional.
Batik Jambi
Batik Jambi sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu kala, saya tidak tahu pasti sejarahnya yang jelas sampai sekarang Batik Jambi mempunyai ke-khasan corak/motif yang masih terpelihara. Beberapa corak tersebut adalah corak/ motif tampuk manggis, durian pecah, kajanglako, dan motif angsoduo meskipun sekarang banyak pengembangan-pengembangan corak baru oleh pengrajin batik di Jambi.
Baca selengkapnya hanya di http://viruspintar.blogspot.com
Batik Kalimantan
Batik Kalimantan memiliki motif yang bervariatif dengan warna-warna yang memanjakan selera. Motif yang umum adalah Batang Garing (simbol batang kehidupan bagi masyarakat Dayak), Mandau (senjata khas suku Dayak), Burung Enggang/Tingang (Elang Kalimantan), dan Balanga.
Batik Toraja
BATIK TORAJA mulai diperkenalkan secara resmi 6 tahun silam (2004) dengan ide menuangkan karya ukir dalam kain dan merupakan perpaduan antara nilai tradisional dengan post-modern.
Batik Bali
Memang masih relatif baru, namun perkambangan industri batik di Bali begitu pesat. Barangkali karena Bali menyimpan banyak potensi motif dan desain lokal. Puluhan desain batik khas Bali telah lahir. Dari yang berharga murah hingga yang selangit. Sejauh ini, harga pasaran rata-rata batik tulis yang beredar di Bali Bali yang berkualitas bagus berkisar antara Rp 350 ribu hingga Rp 2 juta.
Batik Papua
Motif yang Khas dari Batik Papua adalah membuat orang yang mengenakannya semakin anggun dan elegan. Karena motif yang di tampilkan adalah motif-motif natural. Ditambah lagi dengan warna-warna yang relatif beragam. Semakin lengkap dan pas jika di padukan dengan bawahan gelap atau kalem.
Baca selengkapnya hanya di http://viruspintar.blogspot.com
Dan tentunya masih banyak motif-motif batik lainnya dari seluruh daerah indonesia…

Leave a Reply

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

alat musik sunda

Senin, 29 November 2010

Karinding, Seni Sunda Yang Menggeliat

   Pada awalnya saya mengenal alat musik sunda itu, suling, gamelan, calung, angklung dan kendang. Ternyata masih banyak khazanah kesenian dan alat-alat musik sunda yang beredar tetapi tidak terpublikasi dan tidak diajarkan sewaktu sekolah. Namanya Karinding, teman saya punya group musik ‘Karinding Attack” yang underground dan lumayan keren. Karinding sendiri adalah alah yang terbuat dari kayu, ukurannya kecil mungkin sebesar pulpen atau lebih. Dibunyikannya dengan meniup dan menggerakan bagian ujung.
Untuk yang pertama kalinya saya mendengarkan langsung pementasan seni karinding di acara diskusi seni dan lingkungan yang paradoks pada 28 April 2010 di Museum Barli, Bandung. Dua kelompok seni karinding yang menampilkan dan membuat saya takjub. Keduanya memberikan saya fenomena baru dalam dunia musik tradisional.
Karinding (diunduh dari www.wacananusantara.org)

Pada penampil pertama, yang menyajikannya dari Lembang. Saya tidak mencatat namanya, tetapi tahu asal mereka dari Lembang. Penampil pertama ini sangat sunda buhun. Membawa ‘harimau’ dan dupa yang dibakar. Liriknya juga rada-rada kesundaan baheula banget. Sangat tradisional dan sunda pisan. Dandannya jangan ditanya, kalau sunda pisan berarti lengkap antara baju pangsi, iket, kantong yang terbuat dari rami.
Penampil kedua dari Mahasiswa, uniknya ada perempuan dan tambahan alat musik yang ditiup yaitu suling dan satu lagi saya tidak tahu namanya, yang pasti seperti alat musik yang bisa menirukan bunyi burung berkicau, kalau ke Taman Wisata Alam Tangkubanparahau banyak penjualnya.
Kelompok Karinding sekarang semakin bertebaran. Saya ingat bahwa Dadang Hermawan yang terkenal dengan nama Utun, ketua FK3I Jabar, tokoh gerakan lingkungan dan seni sunda membawa Karinding pada ranah musik alternatif. Dengan kelompoknya bernama ‘Karinding Attack‘, Dadang sudah tampil dibeberapa even musik di Kota Bandung. Salahsatunya ketika pergelaran musik Underground, ‘karinding attack’ menyerang dari sisi lain. Ditengah musik-musik cadas, karinding attack muncul. Saya salut pada perjuangan Dadang ‘utun’ dalam mengkampanyekan seni sunda, kearifan lingkungan. Maju terus, Karinding! Yuuu mari kita ngarinding bareng!

ASAL MULA-NYA KARINDING

Awalnya karinding adalah alat yang digunakan oleh para karuhun untuk mengusir hama di sawah—bunyinya yang low decible sangat merusak konsentrasi hama. Karena ia mengeluarkan bunyi tertentu, maka disebutlah ia sebagai alat musik. Bukan hanya digunakan untuk kepentingan bersawah, para karuhun memainkan karinding ini dalam ritual atau upaca adat. Maka tak heran jika sekarang pun karinding masih digunakan sebagai pengiring pembacaan rajah. Bahkan, konon, karinding ini digunakan oleh para kaum lelaki untuk merayu atau memikat hati wanita yang disukai. Jika keterangan ini benar maka dapat kita duga bahwa karinding, pada saat itu, adalah alat musik yang popular di kalangan anak muda hingga para gadis pun akan memberi nilai lebih pada jejaka yang piawai memainkannya. Mungkin keberadaannya saat ini seperti gitar, piano, dan alat-alat musik modern-popular saat ini.
Beberapa sumber menyatakan bahwa karinding telah ada bahkan sebelum adanya kecapi. Jika kecapi telah berusia sekira lima ratus tahunan maka karinding diperkirakan telah ada sejak enam abad yang lampau. Dan ternyata karinding pun bukan hanya ada di Jawa Barat atau priangan saja, melainkan dimiliki berbagai suku atau daerah di tanah air, bahkan berbagai suku di bangsa lain pun memiliki alat musik ini–hanya berbeda namanya saja. Di Bali bernama genggong, Jawa Tengah menamainya rinding, karimbi di Kalimantan, dan beberapa tempat di “luar” menamainya dengan zuesharp ( harpanya dewa Zues). Dan istilah musik modern biasa menyebut karinding ini dengan sebutan harpa mulut (mouth harp). Dari sisi produksi suara pun tak jauh berbeda, hanya cara memainkannya saja yang sedikit berlainan; ada yang di trim (di getarkan dengan di sentir), di tap ( dipukul), dan ada pula yang di tarik dengan menggunakan benang. Sedangkan karinding yang di temui di tataran Sunda dimainkan dengan cara di tap atau dipukul.
Material yang digunakan untuk membuat karinding (di wilayah Jawa Barat), ada dua jenis: pelepah kawung dan bambu. Jenis bahan dan jenis disain bentuk karinding ini menunjukan perbedaan usia, tempat, dan sebagai perbedaan gender pemakai. Semisal bahan bambu yang lebih menyerupai susuk sanggul, ini untuk perempuan, karena konon ibu-ibu menyimpannya dengan di tancapkan disanggul. Sedang yang laki-laki menggunakan pelapah kawung dengan ukuran lebih pendek, karena biasa disimpan di tempat mereka menyimpan tembakau. Tetapi juga sebagai perbedaan tempat dimana dibuatnya, seperti di wilayah priangan timur, karinding lebih banyak menggunakan bahan bambu karena bahan ini menjadi bagian dari kehidupannya.[1]
Karinding umumnya berukuran: panjang 10 cm dan lebar 2 cm. Namun ukuran ini tak berlaku mutlak; tergantung selera dari pengguna dan pembuatnya—karena ukuran ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap bunyi yang diproduksi.
Karinding terbagi menjadi tiga ruas: ruas pertama menjadi tempat mengetuk karinding dan menimbulkan getaran di ruas tengah. Di ruas tengah ada bagian bambu yang dipotong hingga bergetar saat karindingdiketuk dengan jari. Dan ruas ke tiga (paling kiri) berfungsi sebagai pegangan.
Cara memainkan karinding cukup sederhana, yaitu dengan menempelkan ruas tengah karinding di depan mulut yang agak terbuka, lalu memukul atau menyentir ujung ruas paling kanan karinding dengan satu jari hingga “jarum” karinding pun bergetar secara intens. Dari getar atau vibra “jarum” itulah dihasilkan suara yang nanti diresonansi oleh mulut. Suara yang dikeluarkan akan tergantung dari rongga mulut, nafas, dan lidah. Secara konvensional—menurut penuturan Abah Olot–nada atau pirigan dalam memainkan karinding ada empat jenis, yaitu: tonggeret, gogondangan, rereogan, dan iring-iringan.